Skip to content

09

Archive · 2025–2026

Small Acts, Eternal Echoes

Small Acts, Eternal Echoes

DAFTAR ISI

Artikel Muslim

Perintis Muda Melayani Masyarakat

Musim dingin yang lalu, kami berkesempatan untuk berpartisipasi dalam program bimbingan intensif, yakni program Young Leaders In Johannesburg. Berangkat dari pulau nan eksotis Indonesia, kelompok kecil kami yang terdiri dari sekumpulan delapan individu yang memiliki pikiran penuh rasa ingin tahu, menjelajahi benua hingga ke Afrika Selatan. Bersama-sama kami menjelajahi luasnya medan perjalanan, di mana setiap langkah-langkah yang kami jalani, mampu membentuk kisah penuh penemuan dan perkembangan.

Pada Jumat pagi yang dingin, kami bangun lalu mulai menyiapkan makanan yang akan dibagikan ke panti jompo. Kami membuat sandwich dengan penuh antusias. Ya, hari ini adalah hari pelayanan masyarakat. Kami memilih Jumat sebagai hari pelayanan masyarakat. Kami datang sekitar empat puluh lima menit dari komplek Nizamia, ke sekolah Mayfair di Joburg. Memerlukan sekitar dua jam bagi kami untuk menyiapkan empat ratus sandwich. Dalam usaha membuat sandwich yang sempurna, kami merasa perlu meminta bantuan dari warga sekolah disana. Kolaborasi tangan baik yang sudah pernah maupun yang baru membuat sandwich, bersatu padu untuk menyusun kreasi kuliner ini. Tawa bergema di udara saat kami memotong, menyusun, dan menata sandwich sandwich itu, mengubah tugas sederhana menjadi kolaborasi harmonis yang akan membekas dalam ingatan kami. Bapak Sarkhan, pengatur program pelayanan masyarakat, memberi tahu kami bahwa kami harus menyelesaikan tugas sebelum pukul sebelas setengah sehingga kami bisa mendistribusikannya ke panti jompo di dekat sekolah dan kembali untuk salat Jumat.

Segera setelah menyelesaikan tugas, kami menyiapkan sandwich dan sekaligus mengumpulkan berbagai macam buah yang akan kami bagikan bersama-sama. Kami membawa makanan tersebut ke minivan yang tengah menunggu di luar dapur. Dalam perjalanan singkat sekitar lima menit dari sekolah, tibalah kami pada tujuan utama yakni panti jompo. “Semua orang berkumpul di depan minivan sekarang!,” kata Bapak Sarkhan. Jadi, di lingkungan yang penuh semangat ini, serangkaian rumah mengelilingi sekitar kami.

Lalu apa misi kami?

Yakni Mengetuk setiap pintu, menawarkan makanan. Begitu mereka menanggapi ketukan pintu tersebut, sejumlah makanan yang bermanfaat menanti mereka berupa tiga bungkus sandwich, disertai dengan dua jeruk dan apel yang segar. Kami menganggukkan kepala bersama-sama, sepenuhnya memahami tugas sederhana namun bermakna bagi kami.

Saat kami perlahan mengetuk setiap pintu, beberapa penghuni muncul dari dalam. Dengan detail, Bapak Sarkhan menjelaskan perjalanan kami dari Indonesia dan usaha keras yang kami lakukan sejak pagi hari untuk membuat sandwich ini khusus untuk mereka. Rasa keterhubungan antara kita pun mulai terbangun. Di tengah interaksi kami, seorang wanita paruh baya menarik perhatian kami. Ia terasing di dalam rumahnya, mobilitasnya terbatas dan dia tengah duduk dengan rasa pasrah. Mendekatlah salah satu teman kita dengan penuh rasa iba yang kemudian menyodorkan tiga kantong sandwich berikut dengan macam-macam buah yang kami bawa. Sebuah potret momen hubungan antar manusia yang bermakna mendalam terungkap di hadapan kami. Ayra berlutut dengan penuh kedermawanan, menyerahkan bingkisan tersebut kepada wanita itu, dan dengan lembut ia pun bertanya, “Bagaimana kabar Anda, bibi?” Bibi itu, kaget dengan gestur tak terduga, kemudian menjawab, “kabar saya baik, terima kasih. Siapa Anda, dan mengapa Anda memberikan ini kepada saya?”

Dengan senyum hangat, Ayra pun menjelaskan, “Kami berasal dari Indonesia. Kami menyiapkan sandwich ini sejak pagi tadi, khusus untuk Anda. Kami senang bisa berbagi dengan Anda. “Mata bibi itu terlihat berkaca-kaca dan bercampur haru saat dia melanjutkan ucapannya,” Tidak!, maksud saya, saya belum pernah menerima sesuatu yang dibuat khusus untuk saya seperti ini, bahkan bukan dari anak-anak saya sendiri.

Apakah Anda seorang Muslim?

Pandangannya tertuju pada kerudung Ayra, penuh rasa tanya. Ayra menganggukkan kepala, senyumnya melebar, “Ya, saya seorang Muslim. Kami ingin menunjukkan perhatian dan rasa hormat kami kepada Anda melalui hal sederhana ini.”

Momen tak terduga pun terjadi ditengah percakapan itu, wanita itu membuka diri tentang penyakit dan kekurangan fisiknya. Dengan perasaan rentan, dia mempercayakan kepada Ayra, mengungkapkan keinginannya untuk memeluk Islam pada hari itu. Terharu oleh ketulusan kata-katanya, Ayra memeluk wanita tersebut dengan erat, hatinya penuh kehangatan. “Bapak Sarkhan, bisakah Anda datang ke sini?” Suara Ayra membawa campuran kegembiraan dan penuh harap. Ketika Bapak Sarkhan tiba, mata bibi itu bersinar penuh ketulusan seakan ada harapan baru ketika ia menyatakan ingin memeluk Islam. Dengan bimbingan yang lembut, Bapak Sarkhan duduk di sisinya, kata-katanya menenangkan dan penuh dukungan. Saat matahari naik menuju cakrawala, memancarkan sinar hangat pada momen itu, wanita itu pun mengucapkan Syahadat, bersaksi atas iman yang suci di depan kami. Suasana kian terisi dengan rasa persatuan dan spiritualitas, sebuah momen tak terlupakan yang terukir dihati kami selamanya.

Artikel Umum

Sebuah Perjalanan Memberi dan Belajar di Johannesburg

Musim dingin yang lalu, kami berkesempatan mengikuti sebuah program pengembangan kepemimpinan di Johannesburg. Dari sebuah pulau di Indonesia, kami—delapan anak muda dengan rasa ingin tahu besar—menempuh perjalanan jauh hingga ke Afrika Selatan. Perjalanan ini bukan hanya tentang menjelajahi tempat baru, tetapi juga tentang menemukan makna yang lebih dalam dari kebersamaan dan pelayanan.

Pada suatu Jumat pagi yang dingin, kami memutuskan untuk melakukan kegiatan pelayanan masyarakat. Kami menyiapkan ratusan sandwich dengan penuh semangat untuk dibagikan ke sebuah panti jompo di dekat sekolah mitra kami. Membutuhkan waktu hampir dua jam, namun pekerjaan itu menjadi ringan karena dilakukan bersama-sama. Tawa, kerja sama, dan suasana hangat menjadikan aktivitas sederhana itu penuh arti.

Setelah selesai, kami membawa sandwich dan buah-buahan menggunakan minivan ke lokasi. Misi kami jelas: mengetuk setiap pintu, menyapa para penghuni dengan ramah, dan membagikan paket makanan yang sudah kami siapkan. Setiap senyum dan tatapan mata mereka memberi arti lebih dari sekadar membagikan makanan—ada rasa keterhubungan, ada kehangatan yang lahir dari kepedulian tulus.

Salah satu momen paling berkesan adalah ketika seorang wanita paruh baya yang mobilitasnya terbatas menerima paket makanan dari salah satu teman kami. Awalnya ia tampak terkejut, lalu perlahan matanya berkaca-kaca. Dengan suara bergetar, ia berkata bahwa ia belum pernah mendapatkan sesuatu yang disiapkan khusus untuk dirinya, bahkan dari keluarganya sendiri. Kata-kata itu menghentak hati kami.

Percakapan sederhana itu berubah menjadi momen penuh makna. Wanita tersebut merasa diperhatikan, dihargai, dan dilihat. Bagi kami, itu bukan sekadar tentang sandwich atau buah, melainkan tentang menghadirkan kembali harapan dan rasa kebersamaan.

Momen ini menjadi pelajaran besar bagi kami: bahwa kebaikan kecil bisa menembus batas, menjembatani perbedaan, dan menciptakan ikatan yang tulus antar manusia. Di tengah dunia yang sering terasa terpecah, kepedulian sederhana dapat menjadi cahaya yang menguatkan kita semua.

Muslim Article

Young Pioneers Serving the Community

Last winter, we had the chance to join an intensive program called Young Leaders in Johannesburg. Coming from the exotic islands of Indonesia, our small group of eight curious young people traveled across continents to South Africa. Together, we explored not only the journey itself, but also the lessons that shaped our growth and discoveries.

On a cold Friday morning, we woke up early and started preparing food to share with a nursing home. We made sandwiches with full excitement. Yes, today was our day of community service. We traveled about forty-five minutes from the Nizamia complex to Mayfair School in Johannesburg. It took almost two hours to prepare four hundred sandwiches. To make them perfectly, we asked for help from the local school community. Hands—both experienced and new—worked side by side. Laughter filled the air as we cut, arranged, and packed the sandwiches, turning a simple task into a joyful collaboration.

Mr. Sarkhan, the coordinator of the service program, reminded us that we had to finish before 11:30 so we could distribute the food to the nearby nursing home and return for Friday prayers. Soon after finishing, we packed the sandwiches along with fruits and carried them into a waiting minivan. Just five minutes later, we arrived at our destination.

Our mission was simple: knock on each door and offer food. Each resident would receive three sandwiches, two oranges, and an apple. As we went door to door, Mr. Sarkhan explained to the residents that we had come all the way from Indonesia and had prepared the food with our own hands especially for them. Slowly, a sense of connection began to grow.

One unforgettable moment was when a middle-aged woman caught our attention. She was sitting inside, unable to move much, looking weary. One of our friends, Ayra, kindly approached her and handed over the food package. Kneeling down with gentleness, Ayra asked, “How are you, auntie?” The woman, surprised by this unexpected kindness, replied, “I’m fine, thank you. Who are you, and why are you giving this to me?”

With a warm smile, Ayra explained, “We are from Indonesia. We prepared these sandwiches this morning just for you. We are happy to share them with you.” Tears welled up in her eyes as she said, “No, what I mean is—I have never received something made especially for me, not even from my own children.”

Then, she looked at Ayra’s scarf and asked, “Are you a Muslim?” Ayra nodded with a bigger smile, “Yes, I am. We wanted to show you care and respect through this simple act.”

At that moment, something extraordinary happened. The woman opened up about her health struggles and expressed her heartfelt wish to embrace Islam. Overcome with emotion, Ayra hugged her warmly and called Mr. Sarkhan. With gentle guidance and soothing words, he sat by her side. As the sun rose higher, shining warmly upon us, the woman recited the Shahada—declaring her faith. The atmosphere filled with unity and spirituality. It was a moment we would never forget, etched deeply in our hearts forever.

Universal Article

A Journey of Giving and Learning in Johannesburg

Last winter, we had the chance to join a leadership development program in Johannesburg. From Indonesia, our group of eight curious young people traveled far to South Africa. This journey was not only about visiting new places, but also about discovering the deeper meaning of togetherness and service.

On a cold Friday morning, we decided to do a community service activity. With excitement, we prepared hundreds of sandwiches to be shared with a nearby nursing home. It took us almost two hours, but working together made it light and joyful. Laughter and teamwork turned a simple task into something meaningful.

Once finished, we packed the sandwiches with fruits and brought them to the nursing home in a minivan. Our mission was clear: to knock on doors, greet the residents, and share the food. Each smile and look of gratitude reminded us that this was more than just giving out food—it was about building human connection.

One of the most touching moments was meeting a middle-aged woman with limited mobility. When she received her food package, she looked surprised, then her eyes filled with tears. With a trembling voice she said, “I have never received something prepared especially for me, not even from my own children.” Her words deeply moved us.

That simple conversation became a powerful moment. The woman felt seen, valued, and cared for. For us, it was never just about sandwiches or fruit—it was about bringing back hope and a sense of belonging.

This experience taught us a big lesson: small acts of kindness can cross boundaries, bridge differences, and create genuine human bonds. In a world that often feels divided, simple care and compassion can shine as a light that strengthens us all.